stasiun dan kereta api

Ngawi nyaris seperti kota yang tak akrab dengan angkutan kereta api. Satu-satunya stasiun yang agak layak sekitar 15 km dari pusat Kabupaten. Itupun hanya stasiun kecil yang cuma disinggahi kereta-kereta kelas ekonomi.

Itu pula yang mungkin menjadi alasan utama aku dan keluarga Ngawi tak begitu akrab dengan kereta api dan stasiun. Sejauh ingatan, angkutan umum antar kota yang menjadi andalan adalan armada bus. Posisi Kabupaten di jantung Jalur Selatan Pulau Jawa yang menghubungkan Surabaya dan Yogyakarta sangat mendukung hal ini. Nyaris 24 jam sehari, bus-bus berseliweran dan siap ditumpangi sesuai tujuan.

Tapi, sejak mengenal Lil. Kemudian saat berusaha mengakrabkan diri dengan Jember. Kereta api dan stasiun tampak mendekat mengenalkan diri berusaha menjadi kawan baru.

Lil akrab dan terbiasa dengan kereta api. Berbagai macam kereta api dari kelas ekonomi sampai eksekutif menjadi sarana utamanya bergerak dari Surabaya ke Jember dan beberapa kota lain.

Sejak masuk Surabaya di 2005 sampai cabut dari kota ini di awal 2010 kemarin, dia mengaku belum pernah sekalipun pulang ke Jember menggunakan bus. Satu-satunya angkutan yang dipakai sebagai pengganti kereta api saat keadaan khusus adalah jasa Travel. Tampak betapa akrabnya ia dengan aroma stasiun yang memang selalu lebih nyaman dibanding terminal bus itu.

Dan akhirnya dimulai lagi di Februari 2009. Pertama-kalinya aku menumpang kereta lagi setelah terakhir di 2007 dulu saat ke Yogyakarta.

Minggu pagi. Surabaya – Jember. Mutiara Timur Pagi. Kelas Eksekutif.

Perjalanan pertamaku ke Jember tahun itu.

Setelah itu, rasanya makin akrab dengan kereta api.

Malang.

Jember.

Madiun.

Beberapa kali kusapa dengan kereta api.

Sendiri maupun dengan Lil.

Kesimpulanku sampai saat ini, untuk beberapa keperluan, kereta api sedikit lebih nyaman dibanding bus. Namun beberapa hal juga kadang lebih menyebalkan.

Tiket yang lumayan mahal dan selalu jauh lebih mahal lagi saat masa liburan. Jam kedatangan yang nyaris tak pernah tepat. Dan waktu tempuh yang kadang jauh lebih lama dibanding bus.

Namun. Tetap saja beberapa kesempatan memintaku harus menggunakannya lagi, lagi dan lagi.

Seperti kali ini. Setelah keberangkatan Senin malam kemarin dari Stasiun Gubeng Surabaya. Kali ini aku masih tertahan di Stasiun Jember. Kereta telah dijadwalkan dan dipastikan terlambat sebelum jam kedatangan awalnya terlewat.

O iya, ini kereta api pertamaku sejak awal tahun 2010 lalu. Setelah bus yang ternyata lebih “nyaman” di beberapa perjalanan sebelumnya untuk menyapa Jember.

Selamat tinggal Jember. Tunggu aku Surabaya.

Selamat pagi!!!

Iklan

3 thoughts on “stasiun dan kereta api

  1. update keretanya.

    Mutiara Timur Malam tanggal 07 Desember 2010 jurusan Banyuwangi – Surabaya, masuk Stasiun Jember pukul 01:30 WIB tangal 08 Desember 2010. sampai di Stasiun Surabaya Gubeng pukul 06:20 WIB tanggal 08 Desember 2010.

    hitung sendiri keterlambatannya jika di tiket tertulis berangkat pukul 01:00 WIB dari Stasiun Jember dan sampai di Stasiun Surabaya Gubeng pukul 04:59 WIB.

  2. 🙂
    baru 2 kali pp naik Mutiara Timur 🙂
    ke Banyuwangi 🙂

    di Walikukun, kita lebih akrab sama kereta (yayaya, ekonomi) … mungkin dekat sama Gendingan, jadi 50:50 lah antara bis vs kereta api (cmiiw)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s