(gagal) mengkomunikasikan

Pernah membayangkan sesuatu? Sebuah ide maha hebat dan jelas. Ide yang sudah terpetakan secara gamblang semua aspek yang mempengaruhinya. Sebuah konsep matang yang Anda yakini bahwa ide tersebut layak di eksekusi dan pasti akan berhasil.

Saya yakin jawaban sebagian dari Anda adalah “PERNAH”.

Tapi, apakah Anda selalu sukses mengkomunikasikan ide tadi kepada orang lain? Sekedar memberikan gambaran seperti apa ide tersebut?

Jika jawaban Anda adalah “TIDAK”. Maka. Selamat! Anda tidak jauh berbeda dengan saya.

Dalam berbagai kesempatan, saya selalu berusaha untuk mengkomunikasikan dengan baik apa yang ada dalam benak saya. Membagikan sudut pandang saya secara utuh kepada orang lain. Membuat pihak yang sedang saya ajak berkomunikasi mengerti dengan jelas apa yang saya maksudkan tanpa sedikitpun kekurangan.

Ketika komunikasi terjadi melalui bahasa tulis, saya selalu berusaha menyusun frase dengan baik, memilih kata yang tepat, sedapat mungkin meniadakan kalimat yang “ambigu”, kalimat yang dapat dimaknai berbeda dengan arti yang kita inginkan.

Begitupula dalam bahasa lisan, saya selalu berusaha berbicara secara logis. Tahap demi tahap berdasarkan apa yang saya ketahui, yang saya asumsikan dan yang ingin saya ketahui.

Namun usaha-usaha tersebut tampak tidak begitu memuaskan. Saya berulang kali harus menjawab pertanyaan tambahan mengenai email yang saya kirim. Saya terlalu sering dipaksa mengulangi lagi apa yang saya katakan dengan susunan kata dan kalimat yang berbeda. Saya selalu menyempatkan menahan nafas untuk mencerna ulang respon dari lawan bicara yang diluar ekspektasi saya.

Dengan kata lain, saya jarang berhasil mengkomunikasikan ide serta sudut pandang dan isi pemikiran saya dengan baik.

Beberapa kali pula saya dipaksa beradu argumen ketika bahasa tulis saya dianggap terlalu jauh dengan bahasa lisan yang saya kemukakan. Berusaha meyakinkan lawan komunikasi ketika persepsi mereka sudah terlalu kuat berseberangan dengan saya.

Sayangnya, dalam kondisi seperti itu, jalan keluar utama yang nyaris selalu saya pakai adalah prinsip yang tidak terlalu benar. Membiarkan mereka dan saya berada dalam persepsi masing-masing yang berbeda.

Yang pada akhirnya, kami tak pernah bisa bertemu dalam satu kesimpulan atau sudut pandang yang sama. Dan ini berarti bagi saya untuk terus belajar lebih keras lagi cara berkomunikasi yang baik dan benar.

Salam,

devi a zuhdi

Posted via email from devie’s log

Iklan

2 thoughts on “(gagal) mengkomunikasikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s