porong dan lapindo

hari ini, untuk kesekian kalinya (lagi) saya melewati jalanan Porong. kota kecamatan yang mulai kondang sejak musibah lumpur lapindo muncul ke permukaan. lumpur telah merubah wajah kota kecil ini begitu ekstrim. beberapa sudut kota ini tampak seperti kota mati. bangunan kosong tak bertuan dan tak terurus .

alm PERUMTAS

photo ini saya ambil setahun yang lalu (setahun lebih tepatnya), sebelah utara alm Perumahan Tanggulangin Sejahtera, waktu itu masih bisa merangsek lebih dalam ke lokasi lumpur, kondisi lumpur belum semenakjubkan hari ini.

ada cerita menarik mengenai photo diatas. sekitar 100 meter arah tenggara dari tempat saya mengambil photo adalah lokasi tower BTS milik pabrik. tower itu mulai dikerjakan awal 2006, saya melakukan uji terima sekitar pertengahan 2006, kemudian tower itu dibongkar 2 minggu setelah saya mengambil photo diatas. dan yang pasti, tower itu belum sempat dipakai (belum sempat diisntall perangkat telco) tapi sudah harus dibongkar, sedikit menyesakkan juga. 😀

kembali ke Porong. terlalu sering melewati kawasan itu, ada satu kesimpulan ngawur yang bisa saya ambil, “bencana lumpur lapindo telah berkembang menjadi proyek infrastruktur bernilai milyaran rupiah (atau mungkin trilyunan)”. selain nominal ganti rugi dan proyek relokasi korban ke arah sidoarjo utara, proyek pembangunan tanggul dan upaya upaya pencegahan meluasnya luberan lumpur juga menyedot biaya yang tidak sedikit. proyek yang melibatkan banyak perusahaan dengan ratusan bahkan mungkin ribuan tenaga kerja dengan perputaran duit diluar perkiraan banyak orang.

sampai saat ini, saya masih belum bisa menemukan alasan yang mendorong Bakrie mau mengeluarkan duit untuk usaha usaha diatas selain alasan moral dan rasa tanggung jawab. secara hukum (yang berkekuatan hukum tetap), belum ada vonis yang menyatakan Bakrie bersalah dan wajib menanggung segala kerugian yang timbul akibat bencana itu. jadi, jika tidak punya malu dan siap menghadapi massa, Bakrie berhak diam tanpa melakukan aksi apapun sampai ada vonis hukum tetap yang mewajibkan Bakrie mengatasi semua dampak lumpur lapindo.

di sisi ini, saya menyesalkan langkah pemerintah, Jakarta tampak seperti angkat tangan. semua hal dilimpahkan ke Bakrie tanpa payung hukum yang jelas. ketidakadilan tidak hanya menimpa para korban lumpur, tapi juga kepada Bakrie.

selain itu, penangananan side effect diluar korban dan kemungkinan meluasnya luberan lumpur juga tampak diabaikan Jakarta. perbaikan/relokasi jalur transportasi darat yang menguhubungkan Surabaya dan Jawa Timur bagian timur hingga Indonesia Timur sampai hari ini juga masih belum jelas.

sepertinya, elit Jakarta hanya bisa bermain parodi di Senayan!

*) jika ada pertanyaan ke SBY tentang berapa kilometer jalan tol yang telah ia bangun selama menjadi RI1, pasti jawaban yang keluar adalah -10 KM (10 KM jalan tol Porong – Gempol yang lenyap ditelan lumpur)

Iklan

2 thoughts on “porong dan lapindo

  1. *Project miliaran rupiah*,sisi lain yang menguntungkan sebagian pihak yg peka dengan punya hidung berwarna hijau mencium aroma duit 🙂
    Tapi bukannya itu dah dianggap sebagai bencana nasional?? *dengan kata lain bukan tanggung jawab Bakrie group lagi* he..he..
    =-=-=
    Salam..

  2. ada satu kesimpulan ngawur yang bisa saya ambil, “bencana lumpur lapindo telah berkembang menjadi proyek infrastruktur bernilai milyaran rupiah (atau mungkin trilyunan)”.

    itu bukan kesimpulan ngawur bung, akan tetapi REAL KENYATAAN yang ada di Wilayah Lumpur, sampai-sampai ada yang bilang “kalau lumpur LAPINDO itu ANUGRAH AGUNG segala”, bahkan jeritan SEKARAT para KORBAN lumpur sudah tidak bisa Menggugah HATI-NURANI lagi….. SUDAH PARAH RUSAKNYA MENTAL “KEMANUSIAN yang adil dan BERADAB” DI BUMI INDONESIA ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s